Senin, 26 September 2016

Sejarah Kong Hu Cu



Agama Khonghucu, tepatnya disebut Ru Jiao, sudah ada 2000 tahun sebelum Nabi Khongcu lahir. Para raja dan rakyat harus menjalankan upacara agama dan menjunjung tinggi moralitas seperti yang diajarkan oleh para luhur raja. Nabi Khongcu lahir pada tahun 551 SM. Ia ditugaskan oleh Tuhan untuk menata kembali tata upacara agama Ru Jiao dan mengajarkan kepada raja dan rakyat Tiongkok tentang spiritual dan moral agar rakyat Tiongkok hidup lebih sejahtera dan damai. Pada waktu itu di Tiongkok terjadi perpecahan yang menjadikan negeri Tiongkok kacau balau. Para kepala daerah ingin menjadi raja, mereka saling berperang berebut wilayah. Zaman itu disebut zaman Chun Qiu ( Musim Semi dan Musim Gugur).
Nabi Khongcu mendirikan sekolah yang menampung murid sebanyak 3000 orang. Setelah para murid itu pandai banyak yang mendirikan sekolah meneruskan ajaran Nabi Khongcu. Namun, ada juga murid yang mendirikan sekolah dengan aliran lain. Pada waktu itu muncul aliran yang bermacam-macam di Tiongkok, bakan ada aliran yang bertentangan dengan ajaran Nabi, antara lain aliran Mohist yang didirikan oleh Mo Zi.
Dua tokoh besar yang meneruskan ajaran Rujiao yaitu Meng Zi atau Mencius (371-289 SM) dan Xun Zi (326-233 SM). Kedua tokoh ini memang mengajarkan ajaran Rujiao dari Kong Zi, namun mereka mempunyai perbedaan pendapat dalam beberapa hal karena mereka hidup dalam situasi negara Tiongkok yang berbeda. Meng Zi hidup pada saat awal kekacauan muncul, sedangkan Xun Zi lahir saat kekacauan itu sudah memuncak.
Meng Zi mengajarkan: manusia akan hidup bahagia apabila negara makmur dan sejahtera, untuk itu menusia harus melaksanakan Perintah Tuhan, yaitu menjalani hidup lurus, jujur, dan tidak serakah. Kekacauan terjadi dalam masyarakat karena banyak orang tidak menjalankan hidup sesuai Perintah Tuhan. Ajaran Meng Zi lebih mengarah kepada ajaran agama, kekuatan iman sangat diperhatikan. Meng Zi menyakini bahwa watak dasar manusia itu baik.
Xun Zi mengajarkan bahwa manusia bisa hidup bahagia apabila negaranya kuat dan kaya. Untuk mewujudkan negara yang kuat dan kaya perlu dibuat undang-undang yang berlandaskan cinta kasih dan keadilan, dan ditentukan sistem kemasyarakatan yang jelas. Rakyat perlu dididik untuk hidup sesuai dengan sistem kemasyarakatan yang ada. Ajaran Xun Zi lebih mengarah kepada ajaran Filsafat Konfusianisme. Xun Zi tidak yakin bahwa  watak dasar manusia itu baik, maka dia menyarakan adanya penegakan hukum yang serius agar rakyat hidup lurus dan benar.
Ajaran kedua tokoh ini telah memperkuat posisi ajaran Rujiao sebagai agama, pandangan hidup, sistem filsafat bagi masyarakat Tionghoa. Sejak awal dinasti Han, ajaran Rujiao juga diserap oleh bangsa Jepang, bangsa Korea, dan bangsa Vietnam sampai dengan sekarang. Bangsa-bangsa tersebut menyerap ajaran Rujiao menurut keperluan mereka. Di Jepang untuk keperluan pemerintahan mereka mengambil ajaran Xun Zi, untuk keperluan rakyat banyak digunakan ajaran Meng Zi. Di Korea, ajaran Meng Zi lebih banyak diambil dari pada ajaran Xun Zi. Di Vietnam, ajaran Xun Zi lebih banyak dimanfaatkan dari pada ajaran Meng Zi. Di Tiongkok sekarang, untuk pemerintahan lebih banyak diambil ajaran Xun Zi, namun rakyat lebih banyak mengenal ajaran Meng Zi.
Pada xaman dinasti Han (206 SM) Agama Khongcu atau Ru Jiao ditetapkan sebagai agama negara, dan semua pejabat negara harus lulus ujian negara dengan materi ujian ajaran Ru Jiao, yang bersumber dari Kitab Klasik, kitab ini ditulis berdasaekan ajaran Nabi Khongcu oleh para murid-Nya. Namun pada waktu itu banyak orang dengan aliran lain mengaku sebagai pembawa ajaran Khongcu, tujuannya supaya diterima sebagai pejabat.
Pada tahun 97 M, diadakan seminar di Gua Macan Putih (nama sebush gedung di Istana), untuk menetapkan ajaran Nabi Khongcu yang asli dan dipisahkan dari ajaran Khongcu yang palsu. Pemisahahan ini mempunyai dampak positip, tetapi juga mempunyai dampak negatif. Dampak positifnya ajaran Nabi Khongcu yang murni sudah ditetapkan. Dampak negatifnya, banyak buku tulisan pemikir Rujiao yang ikut tersingkirkan atau tidak diakui sebagai ajaran Rujiao. Perlu dijelaskan di sini bahwa pasa zaman itu terjadi pepecahan antara Kelompok teks baru dan teks lama. Tampaknya yang menentukan putusan dalam seminar itu dari kelompok teks baru. Tulisan Yang Xiong ( kelompok teks lama) yang berjudul Tai Xuan Jing (Kitab Rahasia Besar) tidak dimasukkan dalam ajaran Rujiao. Tulisan Yang Xiong justru dimanfaatkan oleh agama Tao sebagai kitab yang amat penting.
Semula agama Konghucu adalah untuk semua rakyat Tiongkok atau bangsa Tionghoa, ajaran agama Khonghuci itu diajarkan melalui sekolah dan para orang tua. Lembaga agamanya adalah negara itu sendiri. Setiap raja yang naik tahta wajib membuat rumah ibadah Khonghucu (Bio atau Miao atau kelenteng) sebanyak tujuh buah, setiap gubernur lima buah, dan residen tiga buah.
Pada akhir dinasti Han (210 M) di Tiongkok muncul agama Tao. Agama Tao ini mengambil berbagai unsur, a.l. ajaran Taoisme, kitab Yi Jing, kitab Tai Xuan Jing, ilmu Kedewataan Tiongkok kuna, dan konsep Reinkarnasi. Agama Tao ini bukan agama negara, mereka lebih bebas menyebarkan ajarannya dengan mendirikan tempat ibadah yang lebih kecil. Perhatian mereka adalah pada ajaran spititual dan ritual, termasuk ilmu magis dan mistik. Mereka mempunyai pendeta yang menyucikan diri dari urusan duniawi. Umat mereka khusus, yaitu yang mempelajari ajaran dari pendeta mereka, bukan di sekolah seperti agama Khonghucu.
Agama Khonghucu pada waktu itu juga mempunyai lembaga khusus yang mempelajari agama, tetapi tidak banyak jumlahnya. Para muridnya setelah lulus juga mengikuti ujian menjadi pejabat negara. Kedudukan agama Khonghucu yang sangat istimewa di Tiongkok saat itu telah menjadikan tokoh agama Khonghucu lupa membina umatnya secara intensif, mereka kurang menekankan pada ajaran spiritual, tetapi lebih menekankan pada pengabdian masyarakat.
Pada abad V, agama Buddha Mahayana mulai berkembang di Tiongkok, akibatnya terjadi persaingan dalam memperebutkan umat dengan agama Tao. Persaingan itu berlanjut menjadi konflik fisik yang melibatkan para pengikutnya. Kaisar dinasti Tang saat itu melerai konflik dengan menyatukan tigs lembaga agama menjadi San Jiao atau Tiga Agama (di Indonesia disebut Tri Darma). Sejak itu di Tiongkok tidak ada konflik umat beragama, karena mereka mempunyai tempat ibadah yang sama. Masing-masing umat mempelajari ajaran agamanya sendiri dan tetap rukun dengan umat lain.
Tentang konsep Tri Darma ini masih ada perbedaan pendapat antara pengikutnya, yaitu ada yang memahami Tri Darma sebagai koalisi, ada yang memahaminya sebagai sinkritisme. Menurut kami, kedua pendapat itu terserah masing-masing. Biarkanlah masing-masing pengikut Tri Darma memilih caranya sendiri untuk konsep itu.
Dengan adanya Tri Darma tidak berarti agama Khonghucu, agama Tao, dan  agama Buddha Mahayana Tiongkok melebur menjadi satu. Maisng-masing agama masih berdiri sendiri-sendiri, namun mereka mengakui  bahwa ada sebagian umat mereka merupakan umat bersama yang perlu dibina bersama. Untuk itu, rohaniwan Khonghucu mendapat kesempatan untuk menguraikan ajaran agama Khonghucu di kelenteng atau Tempat Ibadah Tri Darma (TITD), di samping di tempat Ibadah Untuk agama Khonghucu ( Khongcu Bio)
Hari-hari besar agama Khonghucu dirayakan bersama di TITD maupun di Khongcu Bio, dan juga di rumah-rumah penduduk. Tangal satu bulan satu tahun Imlik (yin li) adalah haru Besar agama Khonghucu ( termasuk Tri Darma). Pada hari-hari menjelang tanggal satu sampai dengan tanggal 15 bulan satu dilakukan berbagai kegiatan upacar keagamaan. Namun, masih banyak orang Tionghoa yang sudah tidak memeluk agama Khonghucu atau Tri Darma masih merayakan hari Sin Tjia itu sebagai tradisi menyambut musim semi (sayangnya di Indonesia tidak ada musim semi). Hal itu adalah hak mereka untuk merayakan hari itu sebagai apa yang dipahaminya, namun jangan mengatakan bahwa hari Tahun Baru Imlik itu bukan hari besar agama. Nagi mereka bukan hari besar agama, tetapi bagi umat Khonghcu dan umat Tri Darma adalah hari besar agama.
Bagi umat Khonghucu dan Tri Darma, kue kranjang adalah kue yang dipersembahkan kepada Tuhan pada awal tahun, kue Bulan ( Tiong Ciu Pia) pada pertengan bulan delapan,  wedang ronde pada hari Tangcik (21Desember), dan kuecang bakcang untuk sembahyang tanggal lima bulan lima Imlik. Apakah orang tidak boleh makan ronde atau bakcang pada hari biasa? Tentu boleh, namun bukan untuk upacara suci, hanya sebagai makanan biasa.
Sumbangan ajaran Rujiao, dari Kong Zi, Meng Zi, dan Xun Zi yang dapat dimanfaatkan oleh umat agama Khonghucu antara lain sebagai berikut.
1.   Manusia lahir ke dunia ini untuk melaksanakan tugas dari Tuhan, yaitu membangun dunia ini lebih baik agar manusia generasi yang akan datang bisa hidup lebih nyaman dan sejahtera. Untuk itu generasi tua harus mendidik generasi muda dengan bekal keimanan, moralitas, keahlian, dan keberanian untuk menghadapi kehidupan.
2.   Manusia haeus membina diri agar semua potensi yang telah diberikan oleh Tuhan kepada masing-masing orang dapat dikembangkan dan diwujudkan menjadi keahlian yang berguna bagi orang lain, masyarakat, dan negara.
3.   Stiap umat Khonghucu harus memberikan karyanya yang terbaik kepada bangsa dan negara di mana dia dilahirkan.
Wujud awal dari keimanan manusia adalah bakti kepada orang tua. Keluarga adalah tempat dimulainya perjalanan hidup manusia, oleh karena itu setiap manusia harus menyiapkan diri untuk memiliki kekuarga yang sejahtera dan bahagia.
Penulis : Ws Dr Oesman Arif, MPd ( Liem Liang Gie )


Kamis, 22 September 2016

Sejarah Er Lang Shen (Ji Long Sin)

Menurut sejarah, Er Lang Shen (Ji Long Sin) adalah putra dari seorang gubernur dari propinsi Sichuan yang hidup pada jaman Dinasti Qin, dengan nama Li Bing.
Pada waktu itu Sungai Min (Min-jiang, salah satu cabang Sungai Yang Zi yang bermata air di wilayah Sichuan) seringkali mengakibatkan banjir di wilayah Guan-kou (dekat Chengdu).

Sebagai gubernur yang peka akan penderitaan rakyat, Li Bing segera mengajak putranya Li Er Lang meninjau daerah bencana dan memikirkan penanggulangannya.
Rakyat Guan-kou yang sudah putus asa menghadapi bencana banjir yang selalu menghancurkan rumah dan sawah ladang, tampak pasrah dan mengandalkan para dukun untuk menghindarkan bencana. Para dukun menggunakan kesempatan ini untuk memeras dan menakut-nakuti rakyat.
Dikatakan bencana banjir itu diakibatkan karena Raja Naga ingin mencari istri. Maka penduduk diharuskan setiap tahun mengirimkan seorang gadis untuk dijadikan pengantin Raja Naga di Sungai Min itu.
Maka tiap tahun diadakan upacara penceburan gadis di sungai yang dipimpin oleh dukun dan diiringi oleh ratap tangis orang tua sang gadis.
Li Bing bertekad mengakhiri semua ini dan berusaha menyadarkan rakyat bahwa bencana dapat dihindari asalkan mereka bersedia bergotong-royong memperbaiki aliran sungai. Usaha ini tentu saja ditentang keras oleh para dukun yang melihat bahwa mereka akan rugi apabila rakyat tidak percaya lagi pada mereka.
Untuk menghadapi mereka, Li Bing mengatakan bahwa putrinya bersedia menjadi pengantin Raja Naga untuk tahun itu. Dia minta sang dukun untuk memimpin upacara. Sebelumnya Li Bing memerintahkan Er Lang untuk menangkap seekor ular air yang sangat besar, dimasukkan dalam karung dan disembunyikan di dasar sungai.
Pada saat diadakan upacara mengantar pengantin di tepi sungai, Li Bing mengatakan pada dukun kepala, bahwa ia ingin sang Raja Naga menampakkan diri agar rakyat bisa melihat wajahnya. Sang dukun marah dan mengeluarkan ancaman. Tapi Li Bing yang telah bertekad mengakhiri praktek yang kejam dan curang ini bersikeras agar sang dukun menampilkan wujud Raja Naga.
Pada saat yang memungkinkan untuk bertindak, Li Bing memerintahkan Er Lang untuk terjun ke sungai dan memaksa sang Raja Naga untuk keluar. Setelah menyelam sejenak Er Lang muncul kembali sambil menyeret bangkai ular air itu ke tepi. Penduduk menjadi gempar. Li Bing menyatakan bahwa sang Raja Naga yang jahat sudah dibunuh, rakyat tidak usah risau akan gangguannya lagi dan tidak perlu mengorbankan anak gadis setiap tahun.
Setelah itu Li Bing mengajak rakyat untuk bergotong-royong membangun bendungan untuk mengendalikan Sungai Min. Usaha ini akhirnya berhasil dan rakyat di daerah itu terbebas dari bencana banjir. Untuk memperingati jasa-jasa Li Bing dan Er Lang di tempat itu kemudian didirikanlah klenteng peringatan.
Pendapat lain mengatakan bahwa sebetulnya Er Lang Shen (二郎神) adalah Zhao Yu yang hidup pada jaman Dinasti Sui (581-618 SM). Kaisar Sui Yang Di (605-617 SM) mengangkatnya sebagai walikota Jia Zhou. Ia pernah membunuh seekor naga yang ganas di sungai dekat kota itu. Oleh penduduk kota Ia kemudian diangkat menjadi Er Lang Shen (二郎神). Pada saat itu Ia berumur 26 tahun.
Setelah kerajaan Sui runtuh, Ia menghilang tidak tentu rimbanya. Pada suatu ketika Sungai Jia Zhou kembali meluap, di antara halimun dan kabut yang menyelimuti daerah itu, terlihat seorang pemuda menunggang kuda putih, diiringi beberapa pengawal, membawa anjing dan burung elang, lewat di atas sungai itu. Itulah Zhao Yu yang turun dari langit.
Untuk mengenang jasa-jasanya penduduk mendirikan klenteng di Guan-kou dan menyebutnya Er Lang dari Guan-kou. Oleh Kaisar Zheng-zong dari dinasti Song, Ia diberi gelar Qing Yuan Miao Dao Zhen Jun (Ceng Goan Biau To Cin Kun) atau malaikat berkesusilaan bagus dari sumber yang jernih.
Hari besarnya diperingati pada tanggal 28 bulan 8 Imlek.
Er Lang Shen (二郎神) banyak dipuja di Propinsi Sichuan. Beberapa klenteng besar yang didirikan khusus untuknya terdapat di Chengdu yaitu Er Lang Miao, di Guan Xian dengan nama Guan Kou Miao, di Baoning, Ya-an dan beberapa tempat lain dengan nama Er Lang Miao. Kecuali Sichuan, Propinsi Hunan juga memiliki beberapa klenteng Er Lang yang cukup kuno.
Er Lang Shen (二郎神) ditampilkan sebagai seorang pemuda tampan bermata tiga, memakai jubah keemasan, membawa tombak bermata tiga, diikuti seekor anjing, kadang-kadang ditambah dengan seekor elang.
Dia dianggap sebagai Dewa Pelindung Kota-Kota di tepi sungai dan sering ditampilkan bersama Maha Dewa Tai Shang Lao Jun  (太上老君) sebagai pengawal.
Bagi kita umat Tao (), Er Lang Shen (二郎神) mempunyai kesaktian yang luar biasa untuk menghadapi roh atau setan yang jahat.
Hari perayaan :
ERL LANG SHEN (二郎神) diperingati setiap tanggal 28 bulan
8 Imlek.

Kamis, 15 September 2016

Mengenal Buddha Maiteya ( Buddha akan datang)

1. Siapakah Buddha?

Buddha adalah seorang yang telah mencapai pencerahan sempurna dengan usahaNya sendiri, sempurna dalam pengetahuan dan tindakanNya, sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal segenap alam semesta, Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, Yang Sadar, dan Yang Patut Dimuliakan.

2. Saya mendengar bahwa Buddha telah mati sehingga Beliau tidak bisa menolong kita. Apakah betul?

Untuk orang-orang yang sederhana, Sang Buddha tampaknya telah mati. Misalnya anda berpikir bahwa guru yang anda hormati telah mati, bukanlah keyakinan itu akan membuat anda mengandalkan diri sendiri untuk mengusahakan keselamatan? Inilah makna dari "kematian" Sang Buddha.

Tetapi sebenarnya Sang Buddha tidak pernah mati, ia memasuki Maha Pari-Nibbana yang mana secara harafiah dapat diartikan sebagai keadaan yang tidak pernah mati. Bagi mereka yang sadar, Sang Buddha tidak pernah mati. Kebenaran tidak pernah dapat mati; kelahiran dan kematian tidak berkuasa atas kebenaran.

3. Bagaimana seorang Buddha bisa menolong kita?

Sang Buddha merupakan guru kita, Beliau menolong kita dengan menunjukkan jalan tetapi kita sendiri yang harus melaksanakannya. Tak seorangpun yang dapat menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri! Ini adalah pesan yang paling indah yang telah diberikan Sang Buddha kepada kita. Sang Buddha bersabda:

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan;Oleh diri sendiri seseorang menjadi ternoda.Hanya oleh diri sendiri kejahatan dihentikan;Oleh diri sendiri seseorang menjadi suci.Kesucian atau ketidaksucian tergantung pada diri sendiri.Tak seorangpun yang dapat menyucikan yang lain.- Dhammapada 165

4. Bagaimana dengan Maitreya, siapakah Dia?

Istilah Maitreya (Sankserta) atau Metteyya (Pali) berasal dari kata 'metta' atau cinta kasih ini adalah Buddha masa depan yang sangat dinantikan tetapi hingga saat ini BELUM dilahirkan.

5. Bila dikatakan bahwa sekarang ini Beliau hanya merupakan Buddha masa depan, apakah statusNya sekarang?

Dalam Dhamma, sekarang ini beliau dikenal sebagai seorang Bodhisattva dan biasanya beliau digambarkan atau diukir dalam mahkota-mahkota dan permata-permata karena Beliau belum melepaskan kehidupan duniawi.

6. Tadi Bhante juga mengatakan bahwa hingga saat ini Metteyya belum dilahirkan, dimanakah Beliau sekarang ini?

Saat ini calon Buddha Metteyya tinggal di surga Tusita yang merupakan alam kelahiran calon Buddha sebelum menjadi Buddha di alam manusia.

7. Apakah Sang Buddha pernah bersabda tentang calon Buddha masa depan ini?

Ya, Sang Buddha pernah mengatakan bahwa Buddha yang datang adalah Matteyya. Hal ini terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka berbahasa Pali tepatnya pada Digha Nikaya Cakkavatti Sihanada Sutta, syair no. 25 yang berbunyi:

“Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama Metteyya, yang sempurna dalam pengetahuan dan pelaksanaannya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, yang sadar serta yang patut dimuliakan, yang sama seperti saya sekarang. Ia, dengan dirinya sendiri akan mengetahui dengan sempurna dan melihat dengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan para dewa, brahma, mara, serta para samana, para pertapa, para pangeran dan orang-orang lainnya, seperti apa yang saya tahu dengan sempurna dan lihat dengan jelas sekarang. Dhamma kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhir akan dibabarkan dalam kata-kata dan semangat, kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang saya lakukan sekarang. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhikkhu sangha, seperti saya sekarang ini yang diikuti oleh beberapa ratus bhikkhu sangha.

8.Apakah juga ada dijelaskan tentang tempat kelahiran Bodhisattva calon Buddha ini?

Dipercayai bahwa Beliau akan dilahirkan saat kehidupan manusia diperpanjang sampai 84.000 tahun. Tempat kelahiranNya adalah Ketumati di masa pemerintahan Chakkavatti Samkha dimana dia sendiri akan menjadi pengikut Buddha dan melepaskan kehidupan duniawi.

Metteyya akan dilahirkan di sebuah keluarga terpelajar yang terkenal dan namaNya adalah Ajita. Nama sukuNya juga Metteyya. Nama ayahNya adalah Subrahma; dan ibuNya adalah Brahmawati. Beliau akan menikah dengan Chandamukhi dan akan mempunyai putra Brahmavaddhana. Beliau akan hidup di empat istana selama 8.000 tahun yaitu Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha dan Chandaka. Selanjutnya Beliau akan melepaskan keduniawian setelah melihat 4 tanda.

Yang akan menjadi para pengikutnya yang luar biasa adalah dua saudaraNya Isidatta dan Purana; Jatimitta dan Vijaya diantara pengikut pria; dan Suddhana, Sanghaa dan Visakhaa diantara pengikut wanita. Yang akan menjadi murid-murid utamaNya diantara para bhikkhu adalah Asoka dan Brahmadeva; dan diantara para bhikkhuni adalah Paduma dan Sumana. Siha akan menjadi pembantu pribadiNya. Beliau akan mencapai pencerahan di bawah pohon Naga.

9. Saya pernah membaca beberapa buku, ada diantaranya yang mengatakan bahwa Buddha Metteyya telah menurunkan ajaranNya. Adapula yang mengatakan Metteyya sebagai Bodhisattva yang berdiam di surga Tusita membabarkan Dhamma. Apakah betul demikian?

Itu adalah TIDAK BENAR. Metteyya adalah calon Buddha yang akan datang, dan seorang calon Buddha tidak mengajarkan Dhamma kepada siapapun juga karena Dhamma ajaran Buddha yang sebelumnya masih ada dan Ia sendiri belum mencapai Penerangan Sempurna.

10. Bila demikian halnya, kapankah Metteyya baru akan menurunkan ajaranNya ke dunia?

Buddha yang akan datang baru akan mengajarkan Dhamma apabila ajaran Buddha sebelumnya telah punah. Hal ini karena ajaran Buddha yang baru adalah SAMA PERSIS dengan ajaran Buddha sebelumnya yaitu tentang Empat Kesunyataan Mulia.

Dengan demikian, adalah TIDAK MUNGKIN ketika ajaran tentang Empat Kesunyataan Mulia masih berkembang di dunia, ada fihak lain yang mengajarkan hal yang sama tersebut.

11. Apakah benar semua Buddha mengajarkan Dhamma yang sama? Mengapa Demikian?

Memang benar bahwa SEMUA Buddha atau lebih tepatnya disebut Sammasambuddha mengajarkan Dhamma yang sama yaitu Empat Kesunyataan Mulia. Untuk lebih jelasnya, dapat pula dilihat dalam Kitab Suci Tipitaka, Digha Nikaya, Maha Vagga, Mahapadana Sutta yang salah satu baitnya menyebutkan :

“Sang Buddha Vipassi pergi ke Bandumati dan bertemu dengan mereka. Kepada mereka Sang Buddha Vipassi membabarkan kata-kata prakhotbah, yaitu, uraian tentang manfaat berdana, tentang moral (sila), tentang surga, tentang bahaya dan kesia-siaan serta gangguan-gangguan dari nafsu indera, manfaat karena meninggalkan pemuasan nafsu indera. Ketika Sang Buddha Vipassi mengetahui bahwa pikiran mereka telah siap, lembut, tanpa prasangka, baik sekali dan penuh keyakinan, maka berulah beliau menguraikan Dhamma yang telah ditemukan beliau, yaitu: Kebenaran tentang dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan melenyapkan dukkha.

12. Maksud Anda, sewaktu Bodhisattva Metteyya lahir di dunia dan setelah mencapai Samyaksambuddha, Beliau juga akan mengajarkan Dhamma yang sama seperti yang diajarkan oleh Buddha Gotama?

Benar sekali, karena Dhamma yang diajarkan oleh Buddha Gotama bukan merupakan ciptaanNya tetapi merupakan hukum kebenaran / hukum alam yang ditemuinya sewaktu mencapai penerangan sempurna.

13.Tetapi saya mendengar bahwa Buddha Gotama menekankan Kebijaksanaan sedangkan Metteya sebagai calon Buddha yang akan datang menekankan cinta kasih, apakah ini bukan perbedaan?

Penekanan pembabaran Dhamma yang dilakukan oleh setiap Buddha disesuaikan dengan kondisi manusia yang tidak sama tetapi inti ajaran yang disampaikan oleh semua Buddha adalah sama sebagaimana yang sudah dijelaskan pada pertanyaan di atas.

Diceritakan bahwa Buddha Gotama membabarkan Dhamma dengan menekankan pada KEBIJAKSANAAN, sedangkan Buddha Metteyya lebih menekankan ajaranNya pada CINTA KASIH. Perbedaan penekanan ajaran ini justru karena disesuaikan dengan kondisi manusia dan kesiapan batin mereka untuk menerima Buddha Dhamma.

14. Apakah hanya seorang Buddha yang mengajarkan Dhamma?

Pengajaran Dhamma pada mulanya memang diajarkan oleh Sammasambuddha yang karena perjuanganNya sendiri telah berhasil mencapai kesucian. Salah satu contoh Sammasambuddha adalah Sang Buddha Gotama. Namun, setelah Beliau mengajarkan Dhamma kepada muridNya sehingga mereka juga mencapai kesucian, para murid ini pun dapat mengajarkan Dhamma yang SAMA dan membawa pendengarnya mencapai kesucian. Murid yang mencapai kesucian karena mendengar ajaran Sammasambuddha tersebut dinamakan Savaka Buddha.

15. Saya pernah pula membaca buku yang katanya berisi ajaran agama Buddha tetapi di dalamnya terdapat  Firman Tuhan. Apakah dalam agama Buddha dikenal adanya Firman Tuhan?

Pengertian ketuhanan dalam Agama Buddha berbeda dengan pengertian yang banyak terdapat dalam masyarakat Tuhan dalam Agama Buddha adalah merupakan tujuan hidup yaitu Nibbana (Pali) atau Nirvana (Sanskerta). Nibbana bukanlah pribadi maupun tempat. Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya. Nibbana tidak terceritakan. Nibbana adalah berhentinya kelahiran kembali.

Karena beberapa pengertian Nibbana atau Tuhan dalam Agama Buddha seperti yang telah disebutkan di atas, maka tentu saja TIDAK dikenal adanya Firman Tuhan. Pengertian adanya 'Firman Tuhan' tersebut timbul dari ajaran yang menganggap Tuhan sebagai pribadi. Konsep ketuhanan sebagai pribadi ini memang lebih banyak berkembang dalam masyarakat dibandingkan konsep Tuhan bukan sebagai pribadi seperti yang dianut Agama Buddha. Oleh karena itu, orang lebih banyak  mengetahui adanya firman Tuhan, karya Tuhan, ciptaan Tuhan dsb yang kesemuanya itu tidak ada dikenal dalam Agama Buddha. Agama Buddha memandang terjadinya segala sesuatu di alam semesta ini adalah karena hukum sebab dan akibat yang telah berproses untuk waktu yang sangat lama.

16. Saya pernah pula mendengar bahwa dalam agama Buddha yang dianut oleh teman saya, terdapat kata rahasia yang katanya sebagai ‘password’ untuk ke surga. Apakah dalam agama Buddha memang dikenal adanya kata-kata rahasia seperti itu?

Dalam Tipitaka, Digha Nikaya, Mahaparinibbana Sutta, dengan jelas Sang Buddha menyatakan bahwa tidak ada Dhamma, Ajaran Beliau yang dirahasiakan maupun dibedakan antara satu orang dengan orang yang lainnya. Oleh karena itu, jelas tidak ada 'Kata Rahasia' yang pernah disampaikan Sang Buddha kepada murid-murid Beliau. Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca kutipan sutta tersebut:

"Aku telah mengutarakan Dhamma, tanpa membeda-bedakan pelajaran yang bersifat khusus maupun yang umum. Tidak ada apa-apa lagi, yang berkenaan dengan Dharma, yang Sang Tathagata pegang sampai akhir, seperti seorang guru yang menggenggam tangannya, seolah-olah menyimpan sesuatu."

17. Apakah ada bedanya rupang seorang Buddha dan seorang Bodhisattva? Saya melihat rupang Bodhisattva Metteyya yang diklaim oleh sebahagian orang sebagai Buddha sangat berbeda dengan rupang Buddha Sakyamuni atau Buddha-Buddha yang lain.

Dalam Kitab Suci Tipitaka Pali, tidak pernah disebutkan tentang bentuk Metteyya Bodhisattva. Bisa saja rupang Bodhisattva Metteyya dibuat sedemikian rupa untuk mempunyai nilai simbolik tertentu. Misalnya, rupangnya yang dibuat tertawa lebar ini mewakili sifat kasih sesuai dengan namanya. Akan tetapi, rupang Buddha atau seseorang yang telah mencapai penerangan sempurna memiliki 32 Maha Purisa Lakkhana / ciri-ciri Manusia Agung sebagaimana yang disebutkan dalam Digha Nikaya, Patika Vagga, Lakkhana Sutta sebagai berikut:

“Para bhikkhu, seorang Manusia Agung (Maha Purisa) memiliki 32 tanda (lakkhana)....... apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), ... maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu:

1.  Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.

2.  Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.

3.  Tumit yang bagus (ayatapanhi).

4.  Jari-jari panjang (digha-anguli)

5.  Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).

6.  Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).

7.  Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).

8.  Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)

9.  Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.

10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).

11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno)

12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit

13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.

14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.

15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).

16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.

17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).

18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).

19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.

20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).

21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).

22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).

23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).

24. Gigi-geligi rata (sama-danto).

25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).

26. Gigi putih bersih (susukka-datho).

27. Lidah panjang (pahuta-jivha).

28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.

29. Mata biru (abhinila netto).

30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).

31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.

32. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).

18.  Saya pernah pula mendengar bahwa ada istilah “Lau Mu” yang katanya merupakan ibunda dunia yang melahirkan para Buddha. Apa benar dalam agama Buddha dikenal adanya hal seperti itu?

Dalam Kitab Suci Tipitaka Pali, istilah Laumu atau yang setara dengan itu tidak pernah disebutkan sama sekali. Keberadaan para Buddha di dunia ini bukanlah karena kelahiran, melainkan karena perjuangan untuk membebaskan diri dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.

Ratu Maya, istri Raja Suddhodana sekalipun tidak pernah melahirkan seorang Buddha. Di Taman Lumbini beliau melahirkan CALON BUDDHA yaitu Pangeran Siddhattha Gotama. Pangeran Siddhattha kemudian meninggalkan istana dan berjuang sendiri sehingga mencapai kebuddhaan menjadi Sammasambuddha. Dengan demikian, seorang Buddha bukanlah karena kelahiran, melainkan karena perjuangan sendiri.